SOPPENG SULSEL – Viralnews84.com Di tengah memanasnya aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa di depan SD Lemba, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Selasa (7/7/2026), satu per satu mahasiswa menyuarakan berbagai tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Soppeng. Massa bahkan sempat memblokade jalan dan menegaskan tidak akan membubarkan diri sebelum ada pihak pemerintah yang datang menemui mereka.
Aksi sempat diwarnai adu argumen antara mahasiswa dan aparat kepolisian yang berjaga mengamankan jalannya demonstrasi. Meski berlangsung dalam pengawasan ketat, semangat mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi tidak surut.
Menjelang waktu Magrib, saat suasana masih dipenuhi ketegangan, anggota DPRD Kabupaten Soppeng dari Fraksi Golkar, Hadi Wijaya, datang seorang diri mengendarai sepeda motor menuju lokasi aksi. Tanpa protokoler dan tanpa pengawalan khusus, ia langsung menghampiri mahasiswa yang sedang berorasi.
Hadi Wijaya tidak datang untuk berpidato panjang. Ia memilih berdialog, mendengar, dan memberi kesempatan kepada mahasiswa menyampaikan seluruh tuntutannya. Kehadirannya perlahan mencairkan suasana yang sebelumnya memanas.
Bagi sebagian pihak, kehadiran Hadi Wijaya mungkin memunculkan berbagai penilaian. Namun satu hal yang tidak dapat dipungkiri, ketika mahasiswa menunggu adanya wakil pemerintah yang bersedia mendengar langsung aspirasi mereka, Hadi Wijaya memilih hadir di tengah massa aksi.
Sikap tersebut dinilai mencerminkan nilai luhur masyarakat Bugis, "Taro Ada Taro Gau", yakni keselarasan antara ucapan dan tindakan. Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari retorika, tetapi juga dari keberanian hadir saat rakyat membutuhkan ruang untuk didengar.
Aksi mahasiswa sendiri menjadi cerminan bahwa masih terdapat berbagai persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Soppeng. Aspirasi yang disampaikan di jalan merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam mengawal jalannya pemerintahan dan pembangunan.
Kehadiran Hadi Wijaya di tengah demonstrasi menjadi sorotan karena memilih membuka ruang dialog dibanding membiarkan situasi berlarut. Bagi banyak peserta aksi, didengarkan adalah langkah awal menuju penyelesaian, sementara bagi seorang wakil rakyat, mendengar merupakan bagian dari amanah yang diemban.
Sebab pada akhirnya, pemimpin sejati bukan hanya mereka yang hadir saat suasana tenang, melainkan mereka yang berani datang ketika rakyat sedang menyampaikan suara dan harapan mereka.
Penulis: Masryadi haya/Red

0 Komentar