Viral Goyang Ngebor di Pasar Ramadan Sukses Watansoppeng Tuai Sorotan.

SOPPENG SULSEL-Viralnews84.com Minggu 1 maret 2026. Video viral dari acara Pasar Ramadan Sukses yang digelar di Lapangan Gasis, Watansoppeng, menuai sorotan tajam publik. Dalam video tersebut, terlihat aksi goyang ngebor diiringi musik “candoleng-doleng” yang dinilai mencederai kesakralan bulan suci Ramadan.

Sejumlah tokoh agama dari kalangan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di Kabupaten Soppeng angkat bicara. Mereka menilai aksi tersebut tidak pantas ditampilkan di ruang publik, apalagi dalam kegiatan yang membawa embel-embel Ramadan. Beberapa pimpinan pesantren di Soppeng juga menyatakan ketidaksetujuan dan menyebut kejadian itu sebagai tontonan yang memalukan.

Masyarakat pun mempertanyakan konsistensi kebijakan pemerintah daerah. Pasalnya, sebelumnya telah beredar surat edaran bupati yang menutup seluruh tempat hiburan malam selama bulan Ramadan. Namun ironisnya, aksi yang dianggap tidak mencerminkan nilai Ramadan justru terjadi di tengah kota dan disaksikan banyak orang.

Sorotan serupa sebenarnya pernah muncul pada 2025 lalu, ketika sejumlah electone dan karaoke live atau cayya-cayya dipermasalahkan karena melanggar jam operasional, bahkan disebut menampilkan biduan berpakaian mencolok. Kini, saat Ramadan tiba, publik kembali dihadapkan pada video viral seorang berpakaian kaos putih hitam bergoyang di atas panggung Pasar Ramadan sukses, dengan gerakan yang dinilai berlebihan hingga disebut-sebut seperti orang kesurupan.

Kekecewaan masyarakat pun semakin menguat. “Seandainya ini acara masyarakat kampung, mungkin detik itu juga sudah dibubarkan. Tapi ini acaranya orang besar,” ujar seorang warga Soppeng yang enggang di sebutkan namanya.

Ia menambahkan, masyarakat sudah paham dengan istilah yang kerap terdengar, “hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.” Ungkapan itu kini kembali digaungkan sebagai bentuk sindiran atas dugaan ketimpangan penegakan aturan.

Kejadian ini memunculkan pertanyaan besar: di mana pengawasan panitia dan peran pemerintah? Jika pelaku usaha kecil bisa dengan cepat ditertibkan atas nama aturan Ramadan, seharusnya kegiatan berskala besar yang digelar di ruang publik pun tunduk pada standar yang sama.

Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak hanya tegas kepada yang lemah, tetapi juga adil dalam setiap kebijakan. Ramadan bukan sekadar ajang keramaian, melainkan momentum menjaga nilai moral dan kearifan lokal. Panitia penyelenggara pun diminta melakukan evaluasi terbuka agar ke depan kegiatan bernuansa religi tidak kembali menimbulkan polemik di tengah masyarakat.


Penulis: Masryadi haya

0 Komentar

Posting Komentar