SOPPENG SULSEL–Viralnews84.com Keluhan datang dari sejumlah petani di Kabupaten Soppeng terkait harga gabah yang dinilai masih jauh tertinggal dibanding daerah tetangga. Hal ini mencuat setelah Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) di bawah kepemimpinan Bupati Syaharuddin Alrif meluncurkan kebijakan harga gabah sebesar Rp7.300 per kilogram.
Sementara itu, di Kabupaten Soppeng harga gabah yang diterima petani hanya berkisar Rp6.500 per kilogram. Selisih Rp800 per kilogram tersebut dinilai sangat besar oleh petani.
Jika dihitung secara sederhana, selisih Rp800 per kilogram berarti Rp800.000 untuk setiap satu ton gabah. Angka ini tentu bukan jumlah kecil bagi petani yang menggantungkan hidupnya dari hasil sawah.
“Kalau selisihnya Rp800 per kilo, berarti satu ton sudah Rp800 ribu bedanya. Petani jelas sangat merasakan perbedaan ini,” ujar salah satu warga soppeng kepada awak media rabu 11 maret 2026.
Para petani menilai kondisi ini menunjukkan bahwa Kabupaten Soppeng masih tertinggal dibanding daerah lain dalam hal keberpihakan terhadap sektor pertanian. Padahal, diketahui bahwa sebagian besar masyarakat di daerah ini menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Menurut masyarakat, kebijakan yang diambil pemerintah daerah sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan petani. Mereka menilai langkah Pemerintah Kabupaten Sidrap yang berani menetapkan harga gabah lebih tinggi merupakan bentuk keberpihakan nyata kepada petani.
“Di Sidrap petani dihargai. Pemerintahnya turun langsung memperhatikan nasib petani. Makanya harga gabah bisa naik sampai Rp7.300 per kilo,” kata warga lainnya.
Salah satu warga di Launga berinisial (AM) di Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng juga menyampaikan hal serupa. Ia mengaku petani di wilayahnya merasa perbedaan harga tersebut sangat terasa.
“Selisih Rp800 per kilo itu besar sekali bagi kami petani. Kalau panen satu ton saja sudah beda Rp800 ribu. Itu bisa dipakai beli pupuk atau kebutuhan rumah tangga,” ungkapnya.
Ia juga menyebut masyarakat sering membandingkan kebijakan pemerintah daerah dalam memperhatikan petani.
“Jujur saja, kami melihat Sidrap lebih serius memperhatikan petani. Itulah hebatnya kalau pemimpin benar-benar terjun ke dunia pertanian dan peduli sama masyarakat,” tegasnya.
Sebaliknya, di Soppeng banyak masyarakat yang merasa pemerintah daerah seolah belum memberikan perhatian maksimal terhadap sektor pertanian. Padahal daerah ini dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil padi di Sulawesi Selatan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Mengapa daerah yang sama-sama memiliki potensi pertanian besar bisa memiliki perbedaan harga gabah yang cukup jauh?
Sebagian warga menilai seharusnya menjadikan kebijakan daerah lain sebagai contoh untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
“Petani ini tulang punggung daerah. Kalau harga gabah rendah, otomatis ekonomi masyarakat juga ikut lesu,” ujar warga.
Menurut mereka, perhatian terhadap petani tidak cukup hanya dengan program atau seremoni semata. Yang dibutuhkan petani adalah kebijakan nyata yang langsung berdampak pada harga hasil panen.
“Petani tidak butuh janji atau pidato panjang. Yang kami butuhkan adalah harga gabah yang layak agar bisa menutupi biaya produksi,” tambahnya.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Soppeng dapat lebih serius memperhatikan kesejahteraan petani, termasuk memperjuangkan harga gabah yang lebih baik.
“Jangan sampai petani di Soppeng hanya jadi penonton ketika daerah lain sudah melangkah lebih jauh,” tutup warga dengan nada kecewa.
Penulis: Masryadi haya

0 Komentar