Lapas Pangkalpinang Kembangkan Budidaya Mentimun Giok, Perkuat Pembinaan Warga Binaan dan Ketahanan Pangan

PANGKALPINANG, Viralnews84.com– Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pangkalpinang terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah mengembangkan budidaya mentimun giok (Jade Girl) sebagai komoditas hortikultura baru yang terintegrasi dengan Agroedupark untuk mendukung program ketahanan pangan.

Budidaya mentimun giok dilakukan di lahan kegiatan kerja seluas sekitar 25 meter persegi yang dikelola langsung oleh Warga Binaan dengan pendampingan petugas. Meski memanfaatkan lahan yang terbatas, tanaman tumbuh subur dan menunjukkan perkembangan yang sangat baik.

Mentimun giok merupakan varietas mentimun hibrida yang memiliki produktivitas tinggi, bertekstur renyah, tidak pahit, serta dapat dipanen dalam waktu sekitar 35 hingga 40 hari setelah tanam. Saat ini tanaman telah memasuki usia sekitar 25 hari dan diperkirakan siap dipanen dalam waktu dekat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi internal Lapas Pangkalpinang.


Kepala Lapas Kelas IIA Pangkalpinang, Sugeng Indrawan, mengatakan pengembangan mentimun giok menjadi salah satu bentuk pembinaan produktif yang tidak hanya memberikan keterampilan bercocok tanam kepada Warga Binaan, tetapi juga mendukung upaya mewujudkan ketahanan pangan.

"Budidaya mentimun giok membuktikan bahwa lahan yang terbatas tetap dapat dimanfaatkan secara maksimal. Selain memberikan keterampilan bertani kepada warga binaan, hasilnya juga dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan di lingkungan Lapas," ujar Sugeng, Selasa (14/7/2026).

Ia menambahkan, keberhasilan budidaya tersebut turut didukung penggunaan kompos Fly Ash produksi Lapas Pangkalpinang yang berasal dari limbah non-B3 hasil pembakaran batu bara. Pemanfaatan kompos tersebut tidak hanya meningkatkan kesuburan tanah, tetapi juga menjadi bagian dari pengelolaan limbah yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis.

"Kami berharap inovasi ini terus berkembang sehingga mampu memperkuat program pembinaan kemandirian sekaligus mendukung ketahanan pangan di Lapas Pangkalpinang," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Mulsa Afrianto, menjelaskan bahwa mentimun giok dipilih karena memiliki produktivitas tinggi, masa panen yang relatif singkat, serta mudah dibudidayakan sehingga sangat sesuai dikembangkan di lingkungan Lapas.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga menjadi media pembelajaran bagi Warga Binaan agar memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat.

Salah seorang Warga Binaan berinisial A mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti kegiatan budidaya tersebut. Ia belajar mulai dari pengolahan lahan, pemupukan, pemasangan ajir hingga perawatan tanaman.

"Selain mengisi waktu dengan kegiatan yang positif, saya juga memperoleh ilmu bercocok tanam yang nantinya bisa menjadi bekal untuk memulai usaha setelah bebas," tuturnya.

Melalui pengembangan Agroedupark Kemandirian, Lapas Pangkalpinang berkomitmen menghadirkan program pembinaan yang produktif, berkelanjutan, serta mampu membentuk karakter, meningkatkan etos kerja, dan membekali Warga Binaan dengan keterampilan yang bermanfaat ketika kembali ke tengah masyarakat.

0 Komentar

Posting Komentar