SOPPENG MEMBISU: Kasus Menguap, Kebenaran Dikubur, Siapa yang Bermain?

SOPPENG SULSEL-Viralnews84.com Senin 20 April 2026. Ada yang tidak beres di Bumi Latemmamala. Kasus demi kasus bermunculan, lalu hilang tanpa jejak. Publik dibuat bertanya, tapi tak pernah diberi jawaban. Semua seperti sengaja dibiarkan membisu.

Ini bukan lagi soal lambatnya penanganan. Ini tentang kebenaran yang seperti dikubur hidup-hidup.

Setiap kali kasus diangkat ke permukaan oleh jurnalis, harapan publik sempat menyala. Namun tak lama, semuanya redup. Sunyi. Seolah ada tangan-tangan tak terlihat yang meredam, menahan, bahkan mungkin menghilangkan arah penanganannya.

Lebih ironis lagi, ketika jurnalis bersuara lantang, justru mereka yang disudutkan. Kritik dianggap ancaman. Suara kebenaran diperlakukan seperti gangguan yang harus diredam.

Tak berhenti di situ, muncul dugaan permainan kotor, oknum penguasa diduga merangkul sebagian jurnalis, membenturkan satu dengan yang lain, hingga pada akhirnya independensi runtuh perlahan. Jika ini benar, maka ini bukan sekadar krisis, ini adalah pembusukan dari dalam.

Fenomena bekingan pun kini terasa nyata. Seolah ada yang kebal hukum, berdiri di atas segalanya, memainkan pengaruh tanpa rasa takut. Hukum seperti kehilangan taring, keadilan seperti kehilangan arah.

Kasus besar Hilang. Dilimpahkan ke atas . Tapi setelah itu hening. Tak ada penjelasa tak ada keberanian untuk berbicara. Hanya diam yang semakin memekakkan telinga.

Pertanyaannya sederhana, tapi berat: siapa yang sebenarnya ditakuti? Kebenaran, atau mereka yang menyembunyikan kebenaran?

Jika hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, maka jangan heran jika kepercayaan publik runtuh. Dan ketika kepercayaan itu hilang, yang tersisa hanyalah kemarahan yang menunggu waktu untuk meledak.

Jurnalisme tidak boleh tunduk pada kekuasaan. Kebenaran tidak boleh dinegosiasikan. Integritas bukan barang yang bisa diperjualbelikan, tegas Advokat senior pada tim media senin 20 April 2026.

Dikutip dari ucapan almarhum Ustaz Yahya Waloni, “Mengemis di pinggir jalan lebih mulia daripada menjilat kepada orang yang serakah.” 


Jangan kotori Bumi Latemmamala dengan kepentingan diri sendiri. Jika kekuasaan digunakan untuk menutup kebenaran, maka itu bukan lagi pemimpin, itu pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat. Ucap salah satu jurnalis senior yang enggang di sebutkan namanya. 


Publik tidak butuh janji. Publik butuh bukti. Dan satu hal yang pasti: kebenaran mungkin bisa ditunda, tapi tidak akan pernah bisa dikubur selamanya.



Penulis: Masryadi haya

0 Komentar

Posting Komentar