Viral, Pupuk Dibanderol 150 Ribu, Petani Kolut Dibantai Harga, Siapa yang Bermain?

KOLAKA UTARA - Viralnews84.com Kisruh pupuk bersubsidi di Beberapa Kecamatan yang ada di kolaka utara (KOLUT) Sulawesi Tenggara. semakin menguatkan dugaan adanya permainan harga yang merugikan petani kecil, Di KECAMATAN NGAPA, KECAMATAN WATUNOHU, Dan KECAMATAN BATU PUTIH , Sulawesi Tenggara (SULTRA).



warga terpaksa membeli pupuk hingga Rp150 ribu per sak di gudang. Sementara itu, anggota kelompok tani bisa mendapatkan harga resmi hanya Rp90 ribu.


Perbedaan harga yang mencolok ini membuat publik semakin curiga bahwa ada pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja mengambil keuntungan di tengah kesulitan petani. Bahkan lebih memprihatinkan, situasi ini bukan baru terjadi tahun ini saja, tetapi diklaim sudah berlangsung bertahun-tahun, tanpa ada penyelesaian nyata. 


“Setiap tahun begitu terus, bahkan ditahun tahun kemarin sebelum harga pupuk turun 20℅ Kami membeli pupuk dengan harga 230 ribuh. kami dibikin susah, pupuk mahal, dan tidak semua bisa masuk kelompok tani. Kami ini petani, tapi tidak pernah dapat keadilan,” ungkap salah satu warga lapai sa'at di temui awak media Jumat 14/11/2025


Minimnya sidak lapangan, lemahnya pengawasan, serta mandeknya transparansi distribusi pupuk bersubsidi membuat masyarakat mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah. Dinas Pertanian Kolaka Utara dinilai tutup mata, sementara para legislator yang mengaku wakil rakyat juga dinilai bungkam.


“Di mana Dinas Pertanian? Di mana anggota DPR yang katanya mewakili rakyat? Sampai kapan petani dibiarkan seperti ini?” keluh warga.


Di tengah kondisi yang kian mencekik ini, masyarakat Kolaka Utara menyampaikan seruan langsung kepada pemerintah pusat. 

“Pak Menteri Pertanian, tolong kami masyarakat Kolaka Utara. Harga pupuk tidak karuan, kami makin terjepit.”


Warga mendesak diadakannya investigasi terbuka, audit distribusi pupuk, serta tindakan tegas kepada siapa pun yang diduga mempermainkan harga hingga merugikan petani kecil.





Penulis: Masryadi