Kemarau Berkelanjutan, Petani Simbalai Menjerit: BBM Sulit Didapat, Sawah Diselamatkan Dengan Mesin Traktor, Bukan Program Pemerintah

KOLAKA TIMUR, SULTRA | Viralnews84.com — Selasa-2-9-2026. Musim kemarau mulai menjadi ancaman serius bagi petani di Kelurahan Simbalai, Kecamatan Loea, Kabupaten Kolaka Timur. Persoalan air yang tak kunjung teratasi membuat petani harus berjuang sendiri agar tanaman di sawah mereka tetap hidup.

Sudah beberapa bulan petani merasakan sulitnya mendapatkan pasokan air. Demi menyelamatkan tanaman, mereka terpaksa menggunakan traktor  mesin pompa air untuk menyedot air dari sungai menuju persawahan.

“Sudah berapa bulan kami menderita air untuk memasuki sawah. Terpaksa kami menggunakan traktor (dompeng) untuk menyedot air dari kali ke sawah. Sudah beberapa minggu kami terus menyedot air,” ungkap salah seorang petani kepada media.

Ironisnya, perjuangan tersebut tidak gratis. Mesin harus terus beroperasi, sementara kebutuhan bahan bakar seperti solar semakin menambah beban biaya produksi.

“Yang menjadi kendala kami termasuk bahan bakar minyak seperti solar. Terlalu susah didapat dan harganya juga mahal,” keluhnya.

Petani Berjuang Sendiri, Pemerintah Ke Mana?

Kondisi ini menjadi pertanyaan bagi pemerintah daerah, khususnya Dinas Pertanian Kabupaten Kolaka Timur. Ketika sawah membutuhkan air, petani justru harus mengandalkan tenaga dan biaya sendiri untuk menyelamatkan tanaman.

Petani tentu tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya berharap pemerintah hadir ketika kebutuhan mereka benar-benar mendesak.

Jangan sampai pemerintah baru sibuk menghitung produksi pertanian ketika musim panen tiba, sementara ketika petani menghadapi kekeringan, mereka dibiarkan berjibaku mencari air dengan biaya sendiri.

Kalau petani harus membeli solar, menyewa atau mengoperasikan dompeng sendiri, lalu apa bentuk kehadiran pemerintah di tengah kesulitan mereka?

Pertanyaan tersebut layak dijawab secara terbuka oleh pemerintah daerah dan dinas terkait.

Para petani Simbalai berharap pemerintah tidak hanya memberikan perhatian dalam bentuk imbauan, tetapi juga bantuan nyata yang bisa langsung digunakan di lapangan.

Mereka meminta bantuan mesin pompa air, Alkon, jonder, mobil Combine, mesin pengolah atau penggiling hasil pertanian, serta bibit pertanian.

“Kami berharap kepada Pemerintah Kabupaten Kolaka Timur dan Kepala Dinas Pertanian supaya memperhatikan kami juga. Kami membutuhkan bantuan alat pertanian seperti dompeng, jonder, mesin pertanian, Alkon dan bibit pertanian agar kami juga bisa merasakan bantuan pemerintah,” harapnya.

Bantuan tersebut dinilai penting untuk mengurangi biaya produksi sekaligus membantu petani menghadapi musim kemarau yang semakin berat.

Jangan Sampai Petani Hanya Diingat Saat Panen

Sektor pertanian merupakan salah satu sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, persoalan kekeringan tidak boleh dianggap sebagai masalah kecil.

Jika pasokan air terus berkurang dan tidak ada langkah cepat, tanaman terancam terganggu bahkan gagal panen. Pada akhirnya, petani pula yang kembali menanggung kerugiannya.

Pemerintah Kabupaten Kolaka Timur bersama Dinas Pertanian diharapkan turun langsung ke persawahan petani Simbalai, bukan sekadar menerima laporan dari balik meja.

Petani membutuhkan solusi konkret: ketersediaan pompa, akses air, dukungan bahan bakar, serta bantuan sarana produksi pertanian.

Sebab, jangan sampai slogan ketahanan pangan terdengar begitu lantang di kantor pemerintahan, tetapi di sawah petani justru sibuk bertanya-tanya: siapa yang akan menyelamatkan tanaman kami?

Kini para petani Simbalai masih bertahan dengan cara mereka sendiri. Mereka menyedot air dari sungai dengan dompeng, mengeluarkan biaya bahan bakar, dan berharap tanaman tetap bertahan hingga panen.

Pemerintah jangan hanya hadir saat kamera menyala dan panen berhasil. Hadirlah ketika petani sedang kesulitan—karena di situlah arti sebenarnya keberpihakan kepada petani.


Reporter: Nasrun song

Redaksi: Masryadi haya

0 Komentar

Posting Komentar