SOPPENG | Viralnews84.com — kamis 20/8/2026. Kemarau panjang tahun ini mulai menunjukkan dampak serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Soppeng. Sejumlah petani mengeluhkan hasil panen yang menurun drastis, bahkan sebagian mengalami gagal panen akibat keterbatasan air.
Kondisi tersebut paling dirasakan petani di Timpalaja, Desa Pattojo, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng. Lahan pertanian yang sebelumnya menjadi tumpuan penghasilan masyarakat kini harus menghadapi kenyataan pahit: tanaman tidak mampu menghasilkan sebagaimana yang diharapkan.
Ironisnya, di tengah keluhan petani tersebut, muncul klaim bahwa hasil produksi pertanian di Soppeng mampu mencapai 10 ton per hektare. Klaim tersebut tentu patut dipertanyakan apabila dibandingkan dengan kondisi yang terlihat di lapangan.
Sebab, antara angka yang disampaikan dan realitas yang dirasakan petani seolah terdapat jurang yang cukup lebar.
Petani tentu tidak membutuhkan angka produksi yang sekadar terdengar manis di ruang publik. Mereka membutuhkan air yang cukup, infrastruktur irigasi yang berfungsi, bantuan nyata ketika gagal panen, serta kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan mereka.
Jangan sampai ketika hasil panen bagus, pemerintah dengan cepat mengatakan bahwa keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja keras dan program pemerintah. Namun ketika petani gagal panen dan mengalami kerugian, masyarakat hanya diminta untuk bersabar dengan alasan bahwa semuanya adalah cobaan.
Kalau keberhasilan menjadi prestasi pemerintah, lalu ketika petani gagal panen, siapa yang bertanggung jawab?
Pertanyaan sederhana itu layak dijawab secara terbuka.
Jangan pula masyarakat dibuat semakin jengkel dengan pernyataan yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Pemerintah seharusnya turun langsung melihat kondisi sawah dan mendengarkan keluhan petani, bukan hanya melihat laporan atau angka produksi di atas kertas.
Petani bukan sekadar angka statistik.
Di balik satu hektare sawah terdapat biaya bibit, pupuk, obat-obatan, tenaga, waktu dan harapan keluarga. Ketika panen gagal, yang hilang bukan hanya hasil produksi, tetapi juga modal dan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Karena itu, jika memang produksi mencapai 10 ton per hektare, tunjukkan datanya secara transparan dan buka kepada publik bagaimana angka tersebut dihitung. Jangan biarkan masyarakat hanya disuguhi klaim, sementara kenyataan di sawah berbicara lain.
Pemerintah Kabupaten Soppeng juga perlu melakukan pendataan secara objektif terhadap wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan, khususnya daerah yang petaninya mengalami gagal panen. Jika memang terjadi kerugian, harus ada langkah konkret untuk membantu masyarakat, bukan sekadar imbauan untuk bersabar.
Sabar memang penting. Tetapi petani juga membutuhkan solusi.
Masyarakat tidak meminta pemerintah menjanjikan sesuatu yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin apa yang disampaikan pemerintah sejalan dengan apa yang mereka rasakan.
Sebab, ketika pemerintah mengatakan petani sejahtera, tetapi petani justru menghitung kerugian di tengah sawah yang gagal panen, maka yang perlu diperbaiki bukan persepsi masyarakat—melainkan kebijakan dan cara pemerintah melihat persoalan.
Jangan sampai pemerintah sibuk mengklaim keberhasilan, sementara petani sibuk menghitung kerugian.
Kini masyarakat menunggu tindakan nyata. Bukan sekadar kata-kata, bukan sekadar angka produksi, dan bukan pula narasi keberhasilan yang jauh dari kondisi di lapangan.
Petani membutuhkan keberpihakan yang bisa dirasakan, bukan sekadar keberhasilan yang hanya terlihat di media.
Penulis: Masryadi haya

0 Komentar