Hasil Panen Sulit Keluar, Warga Simbalai Harap Pemerintah Kolaka Timur Turun Ta


KOLAKA TIMUR SULTRA | Viralnews84.com — Persoalan akses jalan usahatani dan jembatan di Kelurahan Simbalai, Kecamatan Loea, Kabupaten Kolaka Timur, kembali menjadi perhatian warga. Infrastruktur tersebut dinilai sangat penting bagi masyarakat karena menjadi akses untuk mengangkut hasil pertanian menuju jalan poros.

Salah seorang warga Kelurahan Simbalai mengatakan, masyarakat selama ini telah berupaya secara swadaya membuka akses dan membuat jembatan yang dapat dilalui kendaraan roda dua. Namun, kondisi tersebut belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara maksimal karena kendaraan roda empat atau mobil belum dapat melintas.

“Kami dari masyarakat sudah membuat jalan dan jembatan untuk motor. Tetapi kendalanya besar kalau mau mengeluarkan hasil panen menggunakan mobil. Harapan kami pemerintah dapat membantu agar jembatan ini bisa diperbaiki dan jalan bisa tembus mobil,” ungkap warga saat ditemui media Viralnews84.com.

Menurut warga, panjang akses jembatan dan jalan yang menjadi kendala tersebut sekitar satu kilometer. Kondisi ini membuat masyarakat kesulitan ketika musim panen tiba, khususnya saat hasil pertanian harus dibawa dalam jumlah banyak menuju jalan poros untuk dipasarkan.

Bagi petani, persoalan jalan bukan sekadar masalah kenyamanan. Akses yang sulit secara langsung dapat menambah biaya angkut, memperlambat proses pengiriman hasil panen, bahkan berpotensi mengurangi keuntungan yang seharusnya diterima masyarakat.

Masyarakat pun mempertanyakan sampai kapan mereka harus menghadapi persoalan akses tersebut. Mereka berharap pemerintah tidak hanya melihat pembangunan jalan sebagai proyek fisik, tetapi juga sebagai bagian penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.

Petani sudah bekerja mengolah lahan, masyarakat bahkan telah bergotong royong membuka akses. Namun ketika hasil panen hendak dibawa keluar, mereka masih harus berhadapan dengan jalan dan jembatan yang belum memadai.

Sementara itu, Lurah Simbalai, Kaharuddin, S.Ag., saat ditemui media mengatakan bahwa persoalan jembatan tersebut sebelumnya sudah pernah disampaikan kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU).

“Saya sudah pernah menyampaikan kepada Dinas PU terkait jembatan tersebut karena masyarakat sudah merasa jenuh dan kesulitan mengeluarkan hasil panen,” ujar Kaharuddin.

Ia mengatakan, pemerintah kelurahan memahami keluhan masyarakat dan akan terus melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kolaka Timur agar persoalan tersebut mendapat perhatian.

“Kami dari pemerintah setempat akan terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten. Mudah-mudahan apa yang menjadi harapan masyarakat bisa mendapat perhatian dan dapat ditindaklanjuti,” katanya.

Namun demikian, masyarakat berharap koordinasi tersebut tidak berhenti pada penyampaian laporan atau pembahasan di tingkat pemerintah. Warga menginginkan adanya langkah nyata di lapangan agar akses jalan dan jembatan benar-benar dapat digunakan untuk kendaraan roda empat.

Jangan sampai masyarakat hanya mendengar kata “koordinasi”, sementara jalan tetap sulit dilalui dan hasil panen tetap harus dipikul atau diangkut menggunakan kendaraan roda dua.

Jika masyarakat sudah berinisiatif membangun akses secara swadaya, pemerintah semestinya hadir memberikan dukungan melalui pembangunan atau peningkatan infrastruktur yang lebih layak.

Masyarakat Kelurahan Simbalai berharap Pemerintah Kabupaten Kolaka Timur, khususnya instansi teknis terkait, dapat segera melihat langsung kondisi jalan dan jembatan tersebut serta mencari solusi sesuai kebutuhan masyarakat.

Sebab, pembangunan infrastruktur di wilayah pertanian bukan hanya soal membangun jalan dan jembatan, tetapi juga membuka akses ekonomi bagi masyarakat. Jalan yang baik akan mempermudah petani membawa hasil panen, memperlancar distribusi, sekaligus membantu meningkatkan pendapatan masyarakat.

Jalan usahatani dan jembatan tersebut berada di Lingkungan IV Mengane, Kelurahan Simbalai, Kecamatan Loea, Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara.

Kini masyarakat menunggu perhatian nyata pemerintah. Mereka berharap keluhan yang telah disampaikan tidak kembali menjadi catatan yang hanya tersimpan di meja birokrasi.

Petani tidak meminta kemewahan. Mereka hanya meminta akses yang layak agar hasil kerja keras dari kebun dan lahan pertanian dapat sampai ke jalan poros dan pasar.


Reporter: Nasrun song                                             Redaksi: Masryadi haya

0 Komentar

Posting Komentar